Senin, 19 November 2018
Mungkin untuk
siswa atau siswi yang lain setelah Ujian Nasional (UN) tingkat SMA mereka
menikmati waktu kosong mereka sambil menunggu hari pengumuman kelulusan,
berbeda dengan saya, saya harus melaksanakan program tambahan dari sekolahan saya.
Awalnya saya sangat merasa terbebani karena tak bisa seperti teman-teman saya
yang lain yang sekolahnya berbeda dengan saya, mereka bisa menikmati waktu
kosong mereka dengan berwisata bersama keluarga atau sahabat-sahabat mereka
yang lain sedangkan saya tidak.
Program tambahan
yang diadakan sekolahan saya adalah Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) yang
dilaksanakan selama satu bulan. Dimana seluruh siswa siswi yang telah
melaksanakan Ujian Nasional (UN) di tugaskan untuk mengajar di beberapa Sekolah
Dasar (SD) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada saat itu saya mendapat
amanah di SDN 2 Sungegeneng , Sekaran, Lamongan. Saya mengajar disana bersama
empat teman saya yaitu Huda, Yudi, Ayu dan Yusi. Kami berlima berasal dari tiga
kelas yang berbeda, saya dan Yusi berasal dari kelas IPA 1, Ayu berasal dari
kelas IPA 2, sedangkan Huda dan Yudi berasal dari kelas IPS.
Saat pertama
kali kami mengunjungi SDN 2 Sungegeneng, kami di dampingi oleh guru pembimbing
kami yaitu Bu Ida. Saat itu kami masih merasa canggung karena belum mengenal
satu pun guru yang mengajar di SDN 2 Sungegeneng, tetapi kami berusaha untuk
keliahatan tenang. Tetapi, kami hanya beberapa jam saja di SDN 2 Sungegeneng
karena saat itu kami hanya ingin mengetahui tempat yang awalnya kami belum tau
dan tanggapan dari guru yang mengajar disana. Ternyata guru-guru yang mengajar
disana sangatlah ramah sehingga kami merasa tidak terlalu tertekan dengan
situasi yang akan datang.
Beberapa hari
kemudian saat yang sebenarnya kami selalu pikirkan pun tiba, kami di antar guru
pembimbing kami ke SDN 2 Sungegeng untuk melaksanakan program yang telah
menjadi rutinitas sekolah kami setelah Ujian Nasional (UN). Saat kami tiba kami
disambut oleh beberapa guru yang bertugas
hari itu beserta para peserta didik yang ada di sekolah itu. Pada saat
itu tepat hari senin yang biasanya sekolah-sekolah negeri melaksanakan upacara
bendera, dan saat upacara berlangsung di pertengahan upacara kepala sekolah SDN
2 Sungegeneng memperkenalkan kami kepada para peserta didik yang mengikuti
upacara. Setelah upacara selesai kami pun dibagi untuk mengajar di kelas
berapa, yang pertama Ayu di amanahkan untuk mengajar kelas 1, setelah itu saya
di amanahkan untuk mengajar di kelas 2 dan 5, selanjutnya Huda di amanahkan
untuk mengajar di kelas 4, yang terakhir Yudi & Yusi di amanahkan mengajar
di kelas 3, sedangkan yang mengajar kelas 6 masih tetap guru asli dari sekolah
tersebut karena saat itu sudah mendekati Ujian Tryout.
Saat hari
pertama saya mengajar, saya masih merasa kesulitan karena saat itu saya
mengajar kelas 2 terlebih dahulu. Memang muridnya tak begitu banyak tapi untuk
mengatur atau mendapat perhatian dari mereka sangatlah sulit bagi saya. Dari
situlah saya belajar sabar dan menanamkan pada hati saya disini saya bukan guru
yang harus terus di perhatikan tetapi saya sama seperti mereka yang sama-sama
belajar untuk saling mengetahui. Hari selanjutnya saya berusaha mengajak mereka
untuk belajar sambal bermain seperti, saya memberi sebuah tebak-tebakan berupa
nama-nama buah, hewan, dan bunga, dimana siapa yang bisa menjawab akan
mendapatkan hadiah dari saya. Berawal dari sebuah tebak-tebakan itulah saya
mulai akrab dengan mereka dan saya mulai berpikir ternyata tak harus serius
dalam suatu hal yang penting nyatanya dengan sebuah permainan yang di
sangkutkan dengan pelajaran yang ada saja bisa membuat mereka mengerti dan
saling berlomba untuk menjadi pemenang walaupun niat awalnya untuk mendapatkan
sebuah hadiah.
Beberapa hari
selanjutnya saya mengajar di kelas 5 atau lebih tepatnya belajar bersama dengan
peserta didik kelas 5. Berbeda dengan di kelas 2, di kelas 5 saya langsung
mendapat respon baik dari mereka. Mereka selalu memperhatikan apa yang saya
jelaskan walaupun terkadang mereka masih membuat keramaian dikelas. Tetapi
sistem yang saya lakukan yang di kelas 2 masih saya terapkan untuk yang di
kelas 5 tetapi agak berbeda, untuk yang di kelas dua itu tebak-tebakan
sedangkan untuk yang di kelas 5 itu siapa yang bisa menjawab pertanyaan dari
saya atau siapa yang bisa menghafalkan beberapa puisi atau pidato dalam Bahasa
Indonesia atau Bahasa Arab itu yang akan mendapatkan hadiah dari saya.
Hari terus
berganti hari, keakraban kami dengan para peserta didik semakin dekat bahkan
peserta didik yang kelas 6 yang tidak belajar bersama kami pun mulai akrab
dengan kami. Hingga tak terasa hari terakhir kami pun telah tiba, banyak dari
peserta didik yang menangis saat mengetahui kami sudah tidak akan belajar
bersama mereka lagi. Tetapi, kami pun memberi tau mereka bahwa meskipun kami sudah
tidak akan belajar bersama mereka lagi tapi kami tetap akan sering sambang ke
mereka dan guru-guru yang mengajar disana.
Dari pengalaman
inilah saya mengerti bahwa tak semua yang kita inginkan harus terjadi, tetapi
ada beberapa yang harus melenceng dari yang kita inginkan. Seperti pada awalnya
saya merasa iri dengan teman-teman saya yang lain yang bisa menikmati waktu
kosong dengan keluarga atau teman mereka, sedangkan saya harus melaksanakan
program tambahan dari sekolah. Tapi nyatanya dengan adanya program tambahan ini
saya bisa mengisi waktu kosong bersama adek-adek dan juga saya bisa mendapat
pelajaran penting dalam hidup saya yang tidak semua orang bisa dapatkan.
Navigation

